Jumat, 15 Mei 2015

Upaya Terakhir Syaitan Menyesatkan Manusia

Sudah menjadi kehendak Allah SWT sejak zaman azali bahwa iblis dan bala tentaranya para syaitan menjadi musuh manusia. Musuh dalam arti hakiki, yang akan menyengsarakan manusia dalam kehidupan yang sebenarnya, kehidupan akhirat yang kekal abadi. Tetapi dalam kehidupan dunia yang sementara ini, jika kita tidak waspada dan hati-hati, bisa jadi syaitan menjadi temandan sahabat-sahabat kita yang sangat membantu, mendukung dan memudahkan kehidupan kita sehari-harinya. Baik syaitan dari kalangan jin ataupun manusia, baik dengan jalan yang nyata ataupun yang ghaib. Tidak tanggung-tanggung, upaya syaitan untuk menyesatkan ini dilakukan hingga titik terakhir kehidupan manusia, yakni ketika sakaratul maut.

Ketika manusia sedang menghadapi sakaratul maut, salah satu kesulitan atau kesakitan yang dihadapi adalah rasa haus yang tidak tertahankan sehingga seolah-olah membakar hati, tidak hanya rasa haus secara fisik, tetapi bisa juga yang bersifat ghaib. Mungkin orang-orang yang menjaga di sekitarnya telah memberinya minuman, tetapi rasa haus tidak serta-merta hilang. Dalam keadaan seperti inilah biasanya syaitan datang membawa minuman yang tampak sangat menggoda dan menyegarkan, khususnya terhadap kaum muslimin, terlebih kaum mukminin yang keimanannya sangat kuat. Sungguh mereka (para syaitan) itu sangat tidak rela jika seseorang itu meninggal dengan memperoleh keridhaan Allah SWT.

Pada puncak kehausan yang seolah tidak tertahankan itu, syaitan akan datang dengan satu gelas minuman yang sangat segar, dan ia berdiri di sisi kepala seorang mukmin. Sang mukmin yang tidak menyadari kalau ia adalah syaitan, akan berkata, "Berilah aku air itu !"
Syaitan berkata, "Baiklah, tetapi katakan terlebih dahulu bahwa dunia ini tidak ada yang menciptakan, maka aku akan memberikan air ini kepadamu !"
Dalam riwayat lain disebutkan, syaitan akan berkata, "Tinggalkanlah agamamu ini, dan katakan bahwa Tuhan itu ada dua, maka engkau akan selamat dari kepedihan sakaratul maut ini !"

Jika ia mempunyai keimanan yang cukup kokoh, ia akan menyadari kalau sosok pembawa air itu adalah syaitan, maka ia akan berpaling. Tetapi syaitan tidak berhenti dan putus asa, ia akan berdiri di arah kakinya dengan penampilan yang lain, masih dengan membawa minuman yang amat segar menggoda. Sang mukmin yang masih dilanda kehausan akan berkata kepadanya, "Berilah aku miniuman itu !"
Syaitan dalam penampilan itu berkata, "Baiklah, tetapi katakanlah bahwa Muhammad (Rasulullah SAW) itu adalah seorang pendusta, maka aku akan memberikan air ini kepadamu !"
Setelah mendengar jawaban seperti itu, sang mukmin akan menyadari kalau syaitan tidak akan berhenti menggodanya hingga terlepas imannya. Maka ia akan bersabar dalam kehausan yang seakan membakar hati itu dan tidak akan meminta lagi. Ia akan menyibukkan diri dengan mengingat Allah memohon pertolongan dan keselamatan dari sisi-Nya.

Suatu kisah tentang seorang guru dan ulama yang sangat zuhud bernama Abu Zakaria, ketika sedang sakaratul maut, beberapa orang sahabat dan muridnya menunggu beliau. Ketika Abu Zakaria tampak dalam kepayahan, seorang sahabatnya mengajarkan kalimat thayyibah, "Katakanlah : Laa ilaaha illallah !"
Tetapi diluar dugaan, Abu Zakaria memalingkan wajahnya. Sahabat di sisi lainnya juga berkata, "Katakanlah Laa ilaaha illallah !"
Lagi-lagi Abu Zakaria memalingkan wajah, bahkan ketika untuk ketiga kalinya mereka memintanya membaca kalimat thayyibah, Abu Zakaria berkata, "Aku tidak akan mengucapkan kalimat itu !"
Setelah itu ia jatuh pingsan. Para sahabat dan murid-muridnya menangis sedih melihat keadaan itu, sungguh mereka tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi ?
Tetapi satu jam kemudian Abu Zakaria siuman dalam keadaan yang lebih segar. Ia berkata kepada sahabatnya, "Apakah tadi kalian mengucapkan sesuatu kepadaku ?"
"Benar, tiga kali kami meminta engkau membaca syahadat, tetapi dua kali engkau berpaling dan ketiga kalinya engkau berkata : Aku tidak akan mengucapkannya ! Karena itulah kami bersedih.

Abu Zakaria berkata, "Sikap dan perkataanku itu bukanlah kutujukan kepada kalian."
Kemudian Abu Zakaria menceritakan kalau iblis mendatanginya dengan membawa semangkuk air yang tampak segar, sementara ia merasa sangat hausnya. Iblis berdiri di sisi kanannya sambil menggerakkan mangkuknya, sehingga kesegaran air itu makin menggoda, dan berkata, "Tidakkah engkau membutuhkan air ?"
Ia tidak menjawab, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan rasa haus, dan tertariknya dengan kesegaran air itu, maka iblis berkata lagi, "Katakanlah bahwa Isa adalah anak Allah !"
Abu Zakaria berpaling dari iblis, yang saat bersamaan dengan sahabatnya yang meminta ia mengucap kalimat thayyibah untuk pertama kalinya. Tetapi iblis masih menghampiri dari arah yang lain, dan berdiri di dekat kakinya sambil mengatakan seperti sebelumya. Maka ia berpaling lagi, yang bersamaan dengan sahabatnya yang memintanya membaca kalimat thayyibah untuk kedua kalinya. Belum putus asa juga, iblis menghampiri lebih dekat dengan bujuk rayunya yang memikat, mengiming-iminginya dengan minuman yang begitu segarnya, sambil berkata, "Katakanlah bahwa Allah itu tidak ada !"
Maka dengan tegas Abu Zakaria berkata, "Aku tidak akan mengatakannya !"
Saat yang bersamaan, sahabatnya sedang meminta dia mengucapkan kalimat thayyibah itu untuk yang ketiga kalinya.

Abu Zakaria mengakhiri penjelasannya, "Seketika itu mangkuk yang dibawa iblis jatuh dan pecah berantakan, kemudian ia lari terbirit-birit. Tetapi rasa haus itu begitu menggigit dan tidak tertahankan sehingga aku jatuh pingsan. Jadi, sikap dan perkataanku itu bukan untuk kalian, tetapi untuk menolak iblis. Dan sekarang kalian saksikan semua : Ashadu an-laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammad ar rasulullah !"
Setelah itu tubuh Abu Zakaria melemah, dan ia meninggal dunia dalam keadaan khusnul khotimah.

Kamis, 14 Mei 2015

Ketika Nabi Khidr Menjadi Budak

Suatu ketika Nabi Khidr AS berjalan di pasar dan bertemu dengan seorang budak mukatab. Melihat penampilannya yang saleh, walau tidak mengenalnya sebagai Nabi Khidr AS, budak itu berkata, "Bersedekahlah padaku, semoga Allah memberkahi engkau !"
Tanpa memperkenalkan diri atau membuka identitas dirinya, Nabi Khidr AS berkata, "Aku percaya bahwa apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi, tetapi aku tidak memiliki sesuatu apapun yang bisa kuberikan kepadamu !"
 
Sang budak berkata, "Aku meminta kepadamu bi-wajhillah, bersedekahlah kepadaku, karena aku melihat wajahmu sebagai orang yang baik (saleh), karena itu aku mengharap berkah darimu !"
Beliau berkata, "Akku beriman kepada Allah, tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang bisa kuberikan kepadamu, kecuali jika engkau ingin menjual diriku sebagai budak !"
Budak itu terpana memandang Nabi Khidr seolah tidak percaya, dirinya sendiri sebagai budak, bagaimana mungkin bisa menjual orang merdeka sebagai budak ? Kemudian ia berkata, "Apakah hal itu boleh dilakukan ?"

Beliau berkata, "Engkau telah meminta kepadaku dengan atas nama Allah Yang Maha Agung, dan aku tidak bisa mengecewakan engkau demi Wajah Tuhanku. Juallah aku, dan pergunakanlah hasilnya untuk memenuhi kebutuhanmu !"

Budak tersebut adalah budak mukatab, atau disebut juga budak kitabah, yakni yang dijanjikan oleh tuannya untuk dimerdekakan jika bisa membayar harganya walau dengan mengangsur. Ia juga tidak dibebani pekerjaan tuannya, dan bebas berusaha untuk memperoleh uang penebusan dirinya.
Mendengar penuturan Nabi Khidr AS tersebut, sang budak sangat gembira. Ia segera membawa beliau ke tempat penjualan budak, dan terjual seharga 400 dirham, cukup untuk membayar penebusan dirinya. Tinggallah Nabi Khidr AS bersama 'tuannya' yang membelinya, tetapi selama beberapa hari lamanya beliau tidak diperintahkan apa-apa. Tampaknya orang yang membeli beliau itu orang yang baik, ia tidak tega 'membebani' beliau dengan pekerjaan karena beliau kelihatan sangat lemah dan berusia sangat tua !"
Beliau berkata, "Tidak ada sesuatu yang memberatkan diriku !"
Baiklah kalau engkau memaksa, "Kata orang itu, "Pindahkanlah batu-batu di halaman ini ke belakang !"

Di halaman rumah itu memang banyak berserak batu-batu yang cukup besar, yang membutuhkan beberapa hari untuk dipindahkan ke belakang rumahnya. Jika dipindahkan dalam satu hari, membutuhkan setidaknya 6 orang yang cukup kuat dan kekar. Belum setengah hari, orang itu telah kembali ke rumah dan batu-batu itu telah dipindahkan semuanya ke belakang. Orang itu berkata kepada Nabi Khidr AS, "Baik sekali pekerjaanmu, sungguh engkau mempunyai kekuatan yang tidak kusangka-sangka !"

Suatu ketika orang itu memanggil Nabi Khidr AS dan berkata, "Aku akan pergi beberapa hari lamanya, jagalah keluargaku dengan baik !"
Beliau berkata, "Baiklah, tetapi perintahkanlah pula aku mengerjakan sesuatu !"
Orang itu berkata, "Aku khawatir akan memberatkan dirimu !"
Beliau berkata lagi, "Tidak ada sesuatu yang akan memberatkan diriku !"
Orang itu terdiam sejenak, ia sungguh tidak tega memberi beban pekerjaan kepada orang yang telah tampak sangat tua tersebut, tetapi karena memaksa ia berkata, "Jika demikian, buatlah batu bata, aku akan membuat rumah setelah pulang dari perjalanan ini !"

Tentu saja pekerjaan yang amat mudah bagi Nabi Khidr AS, bahkan lebih dari itupun beliau bisa melakukannya, karena beliau memang dikaruniai Allah SWT berbagai macam karamah. Beberapa hari berlalu, orang itu pulang kembali, tetapi  ia tidak menemukan tumpukan batu bata, sebaliknya ia melihat suatu rumah cukup megah, sesuai dengan yang direncanakannya, pada tempat yang disiapkannya. Ia tidak mengerti, padahal ia tidak pernah menceritakan gambaran rumah yang ingin dibangunnya kepada siapapun.

Orang itu segera menemui Nabi Khidr AS di tempatnya dan berkata, "Aku akan bertanya kepadamu Bi-Wajhillah, siapakah sebenarnya engkau ini ?"
Nabi Khidr AS berkata, "Engkau telah bertanya kepadaku dengan kata Bi-Wajhillah, dan kata Bi-Wajhillah itulah yang menjadikan aku sebagai budak. Aku sesungguhnya Khidr yang namanya telah sering engkau dengar !"

Kemudian Nabi Khidr AS menceritakan peristiwa yang beliau alami sehingga menjadi budak, dan beliau menutup ceritanya dengan berkata, "Barang siapa yang diminta dengan perkataan Bi-Wajhillah, lalu menolak permintaan orang itu padahal ia mampu memberi, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan jasad tanpa daging, dan nafasnya akan terengah-engah tanpa henti !"

Perasaan orang itu bercampur baur antara senang, takut, khawatir, dan berbagai perasaan lainnya. Siapakah orang saleh di masa itu yang tidak ingin bertemu dengan Nabi Khidr AS ?
Siapapun pasti menginginkannya, dan tanpa menyadarinya ia telah tinggal bersama beliau selama berhari-hari. Ia berkata, "Aku beriman kepada Allah SWT, dan aku telah menyusahkan dirimu, wahai Nabiyallah, andaikata aku tahu tidak perlu terjadi peristiwa seperti ini !"
Nabi Khidr berkata, "Tidak mengapa, engkau adalah orang yang baik !"
Orang itu berkata, "Wahai Nabiyallah, silahkan engkau mengatur rumah dan keluargaku sesuka engkau, atau bila ingin bebas dari perbudakan ini, aku akan memerdekakan !"
Nabi Khidr berkata, "Aku ingin engkau memerdekakan aku, agar aku bisa bebas beribadah kepada Allah !"

Maka orang itu memerdekakan beliau tanpa syarat apapun, dan Nabi Khidr berkata, "Maha Terpuji Engkau ya Allah, yang telah mengikat aku dalam perbudakan, kemudian menyelamatkan aku darinya. Ya Allah, semoga Engkau menjadikan kami sebagai orang-orang yang berakhlak baik dan membantu saudara-saudara kami lainnya mencapai surga. "

Kecintaan Hamba Allah Yang Sebenarnya

Junaid bin Muhammad Al-Baghdadi, atau lebih dikenal sebagai Junaid Al-Baghdadi adalah seorang ulama Sufi yang dianggap sebagai para penghulu kaum Auliya di zamannya, yakni pada abad ke-2 Hijriah atau abad 9 Masehi. Sejak masih kecil ia telah mendalami dan mempraktekkan kehidupan Sufi dibawah bimbingan guru, yang juga pamannya sendiri, Sariy As-Saqthi.
Suatu malam menjelang Subuh, ketika tidur di rumah paman dan gurunya tersebut, Sariy As-Saqhti membangunkannya dan berkata, "Wahai Junaid, bangunlah karena engkau akan memperoleh pelajaran sangat berharga malam ini !"
Kemudian Sariy As-Saqthi menceritakan kalau ia bermimpi seolah-olah berhadapan dengan Allah, dan berkata kepadanya, "Wahai Sariy, ketika Aku menjadikan makhluk, maka mereka semua mengaku cinta kepada-Ku. Tetapi ketika Aku menciptakan dunia, maka larilah dari Aku sembilan dari sepuluh (90%-nya) kepada dunia, tinggallah satu dari sepuluh (10%-nya) saja yang tetap mengaku cinta kepada-Ku !"
Sariy melanjutkan ceritanya kepada Junaid, bahwa Allah menghadapkan Diri-Nya kepada hamba yang mencintai-Nya itu, yang tinggal 10%-nya. Kemudian Allah menciptakan surga, maka larilah sembilan dari sepuluh (90%-nya) untuk mengejar kenikmatan surga, tinggal satu dari sepuluh (10%-nya, atau seper-seratus dari seluruh makhluk) yang tetap berkhidmat dan mengaku tetap mencintai Allah, tidak tergiur surga dan kenikmatannya.
Allah menghadapkan Diri-Nya kepada hamba yang mencintai-Nya itu, yang tinggal 10% dari sisanya (seper-seratus dari seluruh makhluk). Kemudian Allah menciptakan neraka, maka larilah sembilan dari sepuluh (90%-nya) untuk menghindari pedihnya siksa neraka, tinggal satu dari sepuluh (10%-nya, atau seper-seribu dari seluruh makhluk) yang tetap berkhidmat dan mengaku tetap mencintai Allah. Tidak takut akan neraka dan kepedihan siksaan di dalamnya, tetapi hanya takut kepada Allah, yang dilandasi rasa cinta.
Allah menghadapkan Diri-Nya kepada hamba yang mencintai-Nya itu, yang tinggal 10% dari sisanya (seper-seribu dari seluruh makhluk). Kemudian Allah menciptakan atau menurunkan bala atau musibah, maka larilah sembilan dari sepuluh (90%-nya) untuk menghindari atau sibuk menghadapi musibah tersebut, tinggal satu dari sepuluh (10%-nya, atau seper-sepuluhribu dari seluruh makhluk) yang tetap berkhidmat dan mengaku tetap mencintai Allah. Tidak mau disibukkan dengan bala tersebut, dan menerimanya dengan tawakal yang dilandasi rasa cinta kepada Allah.
Maka Allah menghadapkan Diri-Nya pada mereka yang tetap mengaku mencintai-Nya, yang tinggal seper-sepuluhribu dari seluruh makhluk, dan berfirman, "Wahai hamba-hamba-Ku, kalian ini tidak tergiur dengan dunia, tidak terpikat dengan kenikmatan surga, tidak takut dengan siksaan neraka dan tidak juga lari dari kepedihan bala musibah, apakah sebenarnya yang kalian inginkan ?"
Tentu saja sebenarnya Allah telah mengetahui jawaban atau keinginan mereka, dan mereka itu memang hamba-hamba Allah yang ma'rifat (sangat mengenal) kepada-Nya. Maka mereka berkata, "Ya Allah, Engkau sangat mengetahui apa yang tersimpan pada hati kami !"
Allah berfirman lagi, "Kalau memang demikian, maka Aku akan menuangkan bala ujian kepada kalian, yang bukit yang sangat besar-pun tidak akan mampu menanggungnya, apakah kalian akan sabar ?"
Mereka yang memang hanya mencintai Allah itu berkata, "Ya Allah, apabila memang Engkau yang menguji, maka terserah kepada Engkau !"
Diakhir mimpinya itu, Allah berkata, Wahai Sariy, mereka itulah hamba-hamba-Ku yang sebenarnya !"

Rabu, 13 Mei 2015

Api Dunia Dan Api Neraka

Ketika Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, beliau tidak lagi memperoleh makanan secara mudah seperti di  surga. Beliau harus bekerja keras untuk memperoleh buah-buahan atau daging untuk dimakan. Ketika beliau memperoleh binatang buruan dan menyembelihnya, ternyata tidak bisa langsung dimakan begitu saja karena masih mentah dan tentunya tidak enak. Karena itu beliau berdo'a kepada Allah SWT agar ditunkan api untuk memasak.
Maka Allah SWT mengutus Malaikat Jibril meminta sedikit api kepada Malaikat Malik di neraka, untuk keperluan Nabi Adam AS tersebut. Malaikat Malik berkata, "Wahai Jibril, berapa banyak engkau menginginkan api??"
Jibril berkata, "Aku menginginkan api neraka itu seukuran buah kurma!!"
Malik berkata, "Jika aku memberikan api neraka itu seukuran buah kurma, maka tujuh langit dan seluruh bumi akan hancur meleleh karena panasnya!!"
Jibril berkata, "Kalau begitu berikan saja kepadaku separuh buah kurma saja!!"
Malik berkata lagi, "Jika aku memberikan seperti apa yang engkau inginkan, maka langit tidak akan menurunkan air hujan setetespun, dan semua air di bumi akan mengering sehingga tidak ada satupun tumbuhan yang hidup!!"
Malaikat Jibril jadi kebingungan, sebanyak apa api neraka yang 'aman' untuk kehidupan di bumi?? Karena itu ia berdo'a, "Ya Allah, sebanyak apa api neraka yang harus aku ambil untuk kebutuhan Adam di bumi??"
Allah SWT berfirman, "Ambilkan api dari neraka sebesar zarrah (satuan terkecil, atom)!!"
Maka Malaikat Jibril meminta api neraka kepada Malaikat Malik sebesar zarrah dan membawanya ke bumi. Tetapi setibanya di bumi, Jibril merasakan api yang sebesar zarrah itu masih terlalu panas, maka beliau mencelupkan (membasuhnya) sebanyak 70x ke dalam 70 sungai yang berbeda. Baru setelah itu Beliau membawanya kepada Nabi Adam, dan meletakannya di atas gunung yang tinggi.
Tetapi begitu api tersebut diletakkan, gunung tersebut hancur berantakan. Tanah, batuan, besi dan semua saja yang ada di sekitar api itu menjadi bara yang sangat panas, dan mengeluarkan asap. Bahkan api yang sebesar zarrah itu terus masuk menembus bumi, dan hal itu membuat Malaikat Jibril khawatir. Karena itu ia segera mengambil api tersebut dan membawabya kembali ke neraka. Bara terbakar yang ditinggalkan itulah yang sampai sekarang ini menjadi megma-magma di semua gunung berapi di bumi ini.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana panasnya api neraka tersebut. Kalau bara api dunia itu umumnya berwarna merah, maka bara api neraka itu berwarna hitam kelam, seperti hitamnya gelap malam. Nabi SAW pernah menanyakan tentang keadaan api neraka itu, maka Malaikat Jibril berkata, "Sesungguhnya Allah SWT menciptakan neraka, lalu menyalakan api neraka itu selama 1000 tahun sehingga (baranya) berwarna merah. Kemudian (Allah SWT) menyalakannya (menambah panasnya) selama 1000 tahun lagi sehingga (baranya) berwarna putih, dan (Dia) menyalakannya (menambah panasnya) selama 1000 tahun lagi sehingga (baranya) berwarna hitam. Maka neraka itu hitam kelam seperti hitamnya malam yang sangat gelap pekat, tidak pernah tenang kobaran apinya dan tidak pernah padam (berkurang) bara apinya!!"

Keberkahan Dari Penguasa Yang Adil

Suatu masa sebelum diutusnya Nabi SAW, salah seorang Kisra (Raja) Persia yang adil dan bijaksana sedang berburu di hutan belantara. Karena asyiknya mengejar buruan, sang Raja terpisah dari pasukannya, padahal saat itu hujan mulai turun. Ia melihat sebuah gubug sederhana dan minta izin berteduh, yang segera saja diizinkan. Penghuni gubug itu, seorang wanita tua dan anak gadisnya tidak mengenal sang Raja karena saat itu tidak memakai pakaian kebesarannya.
Di salah satu sudut gubug itu ada seekor lembu, sang gadis memerah susunya dan memperoleh hasil yang melimpah (banyak sekali), untuk menjamu tamunya tersebut. Sang Raja minum dan ia langsung merasakan kesegarannya. Melihat keadaan itu, terbesit dalam hati sang Raja untuk menerapkan aturan pemungutan cukai (pajak) bagi pemilik lemb. Hal itu akan menjadi sumber pemasukan (PAD) yang sangat lumayan bagi kerajaan.
Ketika malam menjelang, sang gadis akan memerah susu lembu seperti biasanya, tetapi ia tidak mendapatkan setetespun, maka ia berseru, "Wahai ibu, sepertinya raja mempunyai niat jahat terhadap rakyatnya!!"
Ibunya berkata, "Mengapa engkau berkata seperti itu??"
Sang gadis berkata, "Karena lemb ini tidak mengeluarkan susunya walau hanya setetes!!"
Sang ibu berkata, "Sabarlah, ini masih malam, nanti menjelang subuh, cobalah lagi untuk memerahnya!!"
Sang Raja yang tengah beristirahat di atas tumpukan jerami itu dengan jelas mendengar pembicaraan ibu dan anak tersebut. Ia berkata pada dirinya sendiri, "Begitu besarkah pengaruhnya dari apa yang aku putuskan??"
Ia berkutat dengan pikirannya sendiri, dan akhirnya membatalkan keinginannya untuk menarik pajak (cukai) bagi pemilik lembu, yang kehidupan mereka umumnya sangat sederhana. Menjelang subuh, sang gadis mencoba memerah susu lembunya, dan ia memperoleh susu yang melimpah seperti sebelumnya. Maka ia berseru, "Wahai ibu, rupanya niat jahat sang raja telah hilang, lembu ini telah mengeluarkan susunya lagi!!"
Sang ibu mengucap syukur, begitu juga dengan sang Raja yang ikut mendengarnya. Ketika hari telah terang, sang Raja berpamitan dan mengucap terima kasih, tetapi tetap tidak membuka jati dirinya. Tidak lama berselang, datang serombongan pasukan yang membawa ibu dan anak penghuni gubugsederhana itu ke kota kerajaan. Mereka diperlakukan dengan hormat dan penuh penghargaan.
Ketika mereka dihadapkan kepada sang Raja, barulah mereka menyadari kalau tamunya semalam adalah penguasa yang sempat 'dirasaninya' (dibicarakan, dighibah). Mereka berdua meminta maaf, tetapi Raja yang bijaksana itu berkata, "Tidak mengapa, tetapi bagaimana engkau bisa mengetahui hal itu??"
Sang ibu berkata, "Kami telah tinggal puluhan tahun lamanya di tengah hutan itu. Jika Raja yang memerintah berlaku adil dan baik, maka bumi kami ini subur, kehidupan kami luas dan lapang, serta ternak kami banyak menghasilkan. Tetapi jika raja yang memerintah berlaku kejam dan buruk, maka bumi kami ini kering, tanah dan ternak kami tidak menghasilkan apa-apa, sehingga kehidupan kami menjadi sempit!!"

Minggu, 10 Mei 2015

Tidak Bersekutu Dalam Kedzaliman

Suatu ketika dua orang ulama dari kalangan Tabiin (atau mungkin Tabiit-tabiin), Ibnu Thawus dan Malik bin Anas dipanggil untuk menghadap Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur. Khalifah kedua dari Daulah Bani Abbasiah ini terkenal dengan kekejamannya dalam menegakkan kekuasaannya, tetapi pada waktu itu ilmu-ilmu keislaman juga mulai berkembang dengan pesatnya, baik itu fikih, Hadist, Tafsir, dan lain-lainnya. Sebenarnya dua ulama itu kurang senang dengan panggilan tersebut, tetapi mengingat kekejamannya, mereka berdua mendatanginya juga.

Mereka masuk ke majelis Al-Manshur, dan di persilakan duduk pada tempat yang telah disediakan. Ternyata saat itu sang Khalifah tengah bersiap mengeksekusi (menghukum mati) seseorang, sang algojo dengan pedang yang terasah tajam siap menerima perintah. Al-Manshur tampak terpekur beberapa saat, kemudian menoleh dan berkata kepada ibnu Thawus, "Ceritakan kepadaku sesuatu tentang ayahmu!!"
Tanpa rasa takut tedeng aling-aling, Ibnu Thawus berkata, "Aku mendengar ayahku berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang menyekutukan Allah dalam hukum-Nya, lalu memasukkan ketidak-adilan dalam keadilan-Nya!!"

Tentu saja Ibnu Thawus sangat tah apa yang dikatakannya, dan resikonya karena dikatakan di hadapan penguasa yang sangat terkenal kekejamannya. Tetapi seperti yang pernah disabdakan Nabi SAW, bahwa jihad terbesar adalah kalimat yang benar (haq), yang disampaikan di hadapan penguasa yang dzalim. Malik bin Anas (yakni Imam Malik, yang 'menyusun' mahdzab Maliki dan kitab hadist yang pertama Al-Muwaththa') juga khawatir dengan perkataannya itu, jangan-jangan Al-Manshur memerintahkan algojonya untuk membunuh Ibnu Thawus. Karena itu ia menutupi dirinya dengan jubahnya agar tidak terpercik darah Ibnu Thawus.

Tetapi beberapa saat berlalu, ternyata Al-Manshur hanya diam terpekur, kemudian berkata lagi, "Wahai Ibnu Thawus, berilah aku nasehat!!"
"Baiklah," kata Ibnu Thawus lagi, "Tidaklah engkau mendengar Firman Allah SWT :
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad ? Penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri yang lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negerinya, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (yakni siksa yang sepedih-pedihnya), sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi!!"

Kekhawatiran Imam Malik makin meningkat saja. Kalau tadi Ibnu Thawus 'mengancam' sang Khalifah dengan hadist Nabi SAW, kini meningkatkan 'ancamannya' dengan Firman-Firman Allah yang tercantum dalam QS Al-Fajr ayat 6-14. Lagi-lagi Imam Malik menangkupkan jubahnya kalau-kalau terjadi sesuatu dengan Ibnu Thawus, yakni dibunuh dan darahnya akan memercik pada dirinya.
Tetapi seperti sebelumnya, Khalifah Al-Manshur hanya terpekur mendengar perkataan Ibnu Thawus tersebut, yang jelas-jelas mengkritisi, bahkan mencela 'kebijakan tangan besi' yang telah dilakukannya. Ia seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri, kemudian berkata, "Wahai Ibnu Thawus berikanlah (pinjamkanlah) tinta (pena/pulpen) kepadaku!!"

Mungkin maksud Al-Manshur akan mencatat perkataan atau nasehatnya tersebut, tetapi lagi-lagi Ibnu Thawus menolak memberikannya. Maka sang Khalifah berkata, "Apa yang menghalangimu untuk memberikan tinta it kepadaku??"
Walau nilai atau harga tinta tidak seberapa, bahkan mungkin tidak ada nilainya sama sekali bagi Al-Manshur, tetapi Ibnu Thawus punya alasan sendiri. Ia berkata, "Aku khawatir kamu menuliskan perintah kemaksiatan (kedzaliman), maka aku bersekutu (terlibat) denganmu dalam kemaksiatan itu!!"

Al-Manshur tampak jengkel dengan perkataan Ibnu Thawus itu, tetapi entah mengapa ia tidak bisa atau tidak berani bersikap kejam kepadanya. Ia berkata, "Pergilah kalian dariku!!"
Maka Ibnu Thawus berkata, "Itulah yang memang kami harapkan!!"

Karena Kesabaran Menghadapi Istrinya

Seorang yang saleh mempunyai saudara yang tempat tinggalnya sangat jauh, karena itu jarang sekali ia bisa mengunjunginya. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, ia datang mengunjunginya. Tetapi tampak rumahnya tertutup, maka ia mengetuk pintunya dan mengucap salam. Terdengar suara ketus seorang wanita dari dalam rumah, yang mungkin istrinya, "Siapa??"
Ia berkata, "Aku saudara suamimu, datang dari jauh untuk menjenguknya!!"
Tanpa membuka pintu, terdengar suaranya yang ketus lagi, "Ia masih pergi mencari kayu, semoga saja Allah tidak mengembalikannya lagi kesini..."

Kemudian masih diteruskan dengan berbagai macam caci-maki kepada saudaranya itu. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Ia tahu betul bahwa saudaranya itu juga saleh seperti dirinya, karena memang begitulah kedua orang tuanya dahulu mendidiknya. Segala macam umpatan dan cacian itu mungkin salah sasaran kalau ditujukan kepada saudaranya itu.

Ia memutuskan untuk menunggu dan tidak berapa lama saudaranya itu datang. Saudaranya itu memang mencari kayu, tetapi ia tidak membawanya sendiri, seekor harimau yang cukup besar berjalan di belakangnya sambil 'menggendong' kayu tersebut. Setelah kayu diturunkan dari punggung sang harimau, saudaranya itu berkata, "Pergilah semoga Allah memberkahi dirimu!!"
Harimau itu berlalu pergi dangan patuhnya, dan pemandangan itu membuatnya terkagum-kagum. Tampaknya saudaranya itu telah mencapai maqam yang cukup tinggi di sisi Allah, hingga mempunyai 'karamah' bisa memerintah binatang buas.

Saudaranya itu mengajaknya masuk, dan meminta dengan lemah lembut kepada istrinya untuk menyiapkan makanan bagi mereka. Sang istri memenuhi perintahnya dengan sikap yang kasar, dan mulutnya tidak henti-hentinya mengomel. Sebaliknya, ia melihat saudaranya itu hanya diam dan terlihat sangat lapang, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Sama sekali tidak ada sikap marah dan tersinggung dengan perkataan istrinya yang sangat menusuk perasaan, bahkan tampak sekali saudaranya itu nyaman dan bahagia dengan keadaannya. Karena itu ia urung untuk menanyakan keadaan rumah tangganya, seperti keinginannya semula.
Dengan keadaan seperti itu, ia tidak ingin berlama-lama untuk tinggal. Ia pamit pulang, tetapi sepanjang perjalanan tidak habis-habisnya ia memikirkan keadaan saudaranya itu. Di satu sisi ia mempunyai 'karamah' yang begitu mengagumkan, tetapi di sisi lainnya, ia menghadapi sikap istrinya yang begitu buruk.

Beberapa tahun berlalu dan tidak bertemu, ia datang lagi mengunjungi saudaranya itu. Sampai di rumahnya yang tampak tertutup, ia mengetuk pintunya dan mengucap salam. Maka terdengar suara seorang wanita, yang mungkin adalah istri saudaranya itu, "Siapa??"
Kali ini suara itu begitu lembut dan santun, sangat berlawanan suara wanita bertahun-tahun sebelumnya. Ia berkata, "Aku adalah saudara suamimu, datang dari jauh untuk menjenguk keadaannya!!"

Suara santun wanita itu terdengar lagi, "Selamat datang, suamiku sedang mencari kayu di hutan. Silahkan untuk menunggu, tetapi mohon maaf aku tidak bisa membukakan pintu hingga suamiku pulang!!"
Ia berkata, "Tidak mengapa, biar saja aku menunggu di luar!!"
Kemudian ia terlibat pembicaraan singkat lewat pintu yang tertutup, dan istri saudaranya itu memuji-muji kebaikan dan kesalehan suaminya itu setinggi langit, dan menyatakan rasa syukurnya karena bisa menjadi istrinya.

Tidak lama kemdian saudaranya itu datang, tetapi yang mengherankannya tidak ada harimau yang membawakan kayunya seperti dahulu. Ia memikul sendiri tumpukan kayu tersebut, tampak kelelahan dan keringat mengalir di wajahnya, tetapi masih dengan kelapangan dan rasa bahagia yang sama seperti bertahun sebelumnya. Mendengar suaranya itu, sang istri langsung membuka pintu dan menyambut kedatangannya dengan santun dan hormatnya.

Saudaranya itu mengajaknya masuk, dan ternyata makanan telah terhidang, maka mereka langsung menyantap makanan yang disediakan istrinya tersebut. Sambil makan ia berkata, "Wahai saudaraku, apakah yang terjadi? Apakah engkau telah kehilangan 'karamah'mu yang dahulu?"

Masih dengan kelapangan hati dan pancaran rasa bahagia yang sama seperti bertahun sebelumnya, saudaranya itu berkata, "Wahai saudaraku, dahulu itu Allah SWT memberikan istri yang cerewet dan rendah akhlaknya kepadaku, dan aku ikhlas menerimanya. Karena kesabaranku menghadapinya, maka Allah mendatangkan harimau untuk membantuku. Beberapa bulan yang lalu istriku yang cerewet itu meninggal, dan sejak itu pula harimau itu tidak membantuku lagi, dan aku harus memikul sendiri kayu-kayu itu. Namun demikian, Allah tetap memberikan 'karamah' lainnya kepadaku, yakni istri yang cantik dan masih muda, serta sangat baik akhlaknya dan tekun ibadahnya!!"

Dalam riwayat lain disebutkan, saudaranya yang saleh itu adalah seorang pandai besi. Ia mencari kayu untuk membakar besi-besi yang diolahnya. Ketika ia masih beristri yang cerewet dan ia bersabar atasnya, bukan hanya harimau yang membawakan kayunya, tetapi ia memegang besi yang dibakarnya langsung dengan tangannya. Tetapi ketika Allah menggantinya dengan istri yang salehah, cantik, masih muda dan berakhlakul karimah, ia harus memegang besi yang dibakarnya dengan penjepit, kalau tidak tangannya akan melepuh.